Anak kecil itu bermain pasir ceria, tertawa, lepas tanpa desiran hampa
Anak kecil itu seolah tak ingin lepas dalam setiap gerusan butiran yang beradu dengan telapak tangannya.
Anak kecil itu menangis saat ibunda menarik halus tangannya kala matahari lelah dan bulan menggantikannya.
Aku, sukacita begitu menghias wajahku, wajah yang tentu saja kalah jika dibandingkan permaisuri yang pernah singgah di hati sang raja.
Aku, mengharap tanpa jenuh, membantu tanpa ingat menyeka peluh.
Aku, butiran butiran air kecil terjatuh di kedua pipi yang tanpa sapuan perona
Aku, melalui hujan aku berbisik,
Aku, melalui petir aku menggugat,
Hai pria! anak kecil saja begitu sedih ketika harus meninggalkan sang pasir, yang sangat ia 'sukai'
Hai pria! lihatlah begitu pilu anak itu menangis ketika hujan menyeka seluruh butirannya
Hai pria! tidakkah kau lihat kesungguhanku
atau mungkin belum?
Hai pemusat fikiran dan ilusiku! lihat aku, pandang aku, perhatikan aku!
Aku membutuhkanmu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar